You are currently viewing Mengambil Secercah Cahaya Hikmah dari Kemajuaan Islam di Masa Lalu

Mengambil Secercah Cahaya Hikmah dari Kemajuaan Islam di Masa Lalu

Melihat napak tilas peradaban Islam di masa lalu maka kita akan terkagum-kagum. Betapa tidak, peradaban Islam di masa lalu telah banyak melahirkan banyak tokoh-tokoh di bidang keagamaan maupun sains. Peradaban yang pernah menguasai 2/3 wilayah di muka bumi ini. Umat yang mampu menundukkan imperium-imperium besar di masanya.
Banyak pencapaian yang telah di torehkan oleh peradaban Islam. Dari sumber-sumber sejarah dijelaskan bahwa kota-kota Islam kala itu memiliki begitu banyak perpustakaan, sekolah, rumah sakit. Selain itu, di kala itu ilmu-ilmu keagamaan maupun sains berkembang begitu pesat.
Kota-kota yang masyhur kala itu di antaranya yakni Cordoba dan Baghdad. Cordoba dan Baghdad kala itu telah memiliki puluhan perpustakaan, rumah sakit, sekolah, dan lain-lain. Dr. Muhammad as-Siba’i menuturkan “Cordoba dikelilingi taman-taman yang hijau. Rumah-rumah penduduknya berjumlah 283.000 buah. Gedung-gedung sebanyak 80.000 buah, masjid ada 600 buah. Masyarakat disitu semua terpelajar. Orang-orang miskin menuntut ilmu secara cuma-cuma. Di seluruh Cordoba terdapat lima puluh rumah sakit dan delapan puluh sekolah”.
Sedangkan Baghdad jauh lebih menakjubkan jika di bandingkan dengan Cordoba. Yang menakjubkan dari Baghdad ialah istana kekhalifahan (Darul Khilafah). Mengenai Darul Khilafah Dr. Muhammad as-Siba’i menuturkan “Darul Khilafah luasnya melebihi sebuah kota besar dari kota-kota Suriah sekarang. Di situ terdapat 11.000 orang pelayan yang terhitung dan ribuan lainnya yang tak terhitung”.
Mengenai perpustakaan-perpustakaan, di salah satu perpustakaan yang ada di Cordoba kala itu telah memiliki ratusan ribu koleksi buku. Sedangkan salah satu perpustakaan di Mesir telah memiliki sekitar satu juta koleksi buku. Belum lagi di kota-kota yang lainnya. Sedangkan rumah sakit-rumah sakit, maka di kala itu masyarakat Islam mendapatkan layanan kesehatan secara cuma-cuma. Bahkan, mereka yang kurang mampu akan mendapatkan tunjangan hidup hingga mereka mampu untuk bekerja kembali.
Berbicara mengenai ilmuan di era kemajuan Islam maka jumlah sudah tak terhitung lagi. Hal tersebut memang dikarenakan terlalu banyaknya ilmuan di kala itu. Salah satu satu tokoh yang sangat harum namanya yakni Ibnu Sina di bidang kedokteran dan Ibnu Rusyd di bidang filsafat. Ajaran dari kedua tokoh tersebut sangat berpengaruh besar terhadap peradaban Barat yang kini mengalami era kemajuan.
Di balik kemajuan yang begitu gemilang, bangsa Barat di kala itu justru mengalami masa kegelapan. Betapa tidak, di kala itu bangsa Barat hidup dalam keterpurukan. Dr. Musthafa as-Siba’i menjelaskan “dalam buku sejarah umum karya Lavis dan Rambou dijelaskan bahwa Inggris Anglo-Saxon pada abad ke-7 M hingga sesudah abad ke-10 M merupakan negeri yang tandus, terisolir, kumuh dan liar. Rumah-rumah dibangun dengan batu kasar tidak dipahat dan diperkuat dengan tanah halus. Rumah-rumahnya dibangun di dataran rendah. Rumah-rumah itu berpintu sempit, tidak terkunci kokoh dan dinding serta temboknya tidak berjendela. Wabah- wabah penyakit berulang-ulang berjangkit menimpa binatang-binatang ternak yang merupakan sumber penghidupan satu-satunya”.
Di era keemasannya, umat Islam telah menorehkan banyak macam prestasi yang tidak sedikit telah memberikan pengaruh besar terhadap peradaban dunia. Kemajuan-kemajuan tersebut tentu tidak lepas dari peranan ilmu-ilmu pengetahuan. Kepedulian yang tinggi dari para khalifah dan kecintaan masyarakat pada aspek ilmu pengetahuan yang di dorong oleh semangat al-Qur’an dan as-Sunnah serta dilandasi oleh aqidah Islam yang kokoh, telah banyak melahirkan ilmu-ilmu pengetahuan dan membuat peradaban Islam mencapai kejayaannya.
Jika kita bandingkan, peradaban Islam masa lalu dengan masa kini maka Islam di masa kini bias dikatakan mengalami kemunduran dibandingkan dengan peradaban bangsa Barat. Di masa ini justru bangsa Baratlah yang mengalami kemajuan. Melalui teknologi dan ilmu pengetahuan, mereka mampu menguasai dunia.
Kemunduran-kemunduran yang dialami oleh umat Islam saat ini, bisa jadi karena umat Islam telah banyak menghiraukan syari’at Islam itu sendiri. Melupakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Teringat sebuah pepatah “Islam itu jaya karena menegakkan syariat agamanya namun bangsa Barat (terutama Nasrani) jaya sebab meninggalkan syariat agamanya”.
Dari sumber sejarah, dijelaskan bahwa salah satu khalifah dinasti Abbasiyah setiap hari melakukan shalat tak kurang dari 100 rakaat. Sedangakan Sultan Muhammad al-Fatih yang dikenal sebagai Sang Penakhluk Konstantinopel dikisahkan bahwa ia adalah seorang yang sejak baligh belum pernah meninggalkan shalat berjamaah, shalat malam, dan shalat ba’diah qobliyah. Namun perhatikanlah di masa kini, justru umat Islam sendiri banyak yang melalaikan shalat. Melalaikan kewajiban yang seharusnya mereka tunaikan sebagai wujud ketundukan pada Tuhan semesta alam, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam al-Qur’an dijelaskan bahwasannya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Barangkali hal tersebutlah (meninggalkan shalat) dan melakukan berbagai kemaksiatan yang membuat umat ini menjadi kian terpuruk.
Perhatikanlah pula, di masa ini banyak pemimpin-pemimpin Islam yang berlaku sewenang-wenang dengan kekuasaan mereka. Tidak sedikit dari pemimpin-pemimpin Islam yang melakukan tindakan-tindakan yang dilarang misalnya korupsi. Padahal di dalam prinsip Islam jelaslah bahwa mengambil hak orang lain itu diharamkan. Namun yang terjadi, justru mereka seakan-akan tidak mempedulikan syari’at lagi. Demi menuruti hawa nafsu, mereka tidak segan-segan melakukan perbuatan yang dilaknat Allah tersebut.
Kita tahu bahwa tindakan korupsi sangat merugikan umat. Betapa tidak, harta yang seharusnya untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyat justru diambil oleh tangan-tangan kotor mereka. Dengan demikian, mana mungkin suatu negara akan dapat meraih kemakmuran dan kemajuannya?
Selain itu, aqidah yang lemah juga merupakan faktor yang turut membuat Islam mengalami kemunduran. Para pemimpin yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya tidak sedikit membuat umat ini sulit untuk mencapai kemajuan-kemajuan. Lemahnya aqidah dan lemahnya semangat umat Islam masa kini untuk mentelaah ilmu-ilmu pengetahuan juga merupakan sebab-musabab tertinggalnya peradaban Islam. Karena pada dasarnya peradaban yang besar itu ditopang oleh aspek kemajuan ilmu pengetahuan.
Bercermin dan belajar dari peradaban Islam di masa lalu, Dimanakah semangat umat Islam kini? Dimanakah para ilmuan-ilmuan, layaknya ilmuan Islam di masa lalu, yang kita rindukan keberadaannya?
Saudaraku, marilah kita bangkit! Sebagai generasi penerus, marilah kita senantiasa mencintai ilmu-ilmu pengetahuan (ilmu-ilmu agama maupun sains). Banyak mengkaji ilmu-ilmu pengetahuan dan yang terpenting mengkaji al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga Islam dapat kembali berjaya.

This Post Has 2 Comments

  1. ABDUL WAHID

    subhanallahhh
    semoga islam kembali jaya seperti dulu
    aminn

Leave a Reply